Apakah kecenderungan orang yang memproduksi atau menyebarkan berita atau informasi bohong berkaitan dengan gangguan mental?
Kecenderungan seseorang untuk memproduksi atau menyebarkan berita atau informasi bohong (misinformasi dan disinformasi) tidak dapat langsung dikaitkan dengan gangguan mental. Dalam kajian psikologi dan komunikasi, perilaku ini umumnya dipahami sebagai hasil interaksi antara faktor kognitif, emosional, sosial, dan lingkungan, bukan semata-mata karena kondisi klinis.
Secara umum, sebagian besar orang yang menyebarkan informasi yang tidak benar melakukannya karena keterbatasan dalam literasi informasi dan digital. Menurut UNESCO (2018), rendahnya kemampuan masyarakat dalam mengevaluasi sumber informasi menjadi salah satu penyebab utama penyebaran hoaks. Banyak individu belum terbiasa memeriksa kredibilitas sumber, memahami konteks, atau membedakan antara opini dan fakta.
Selain itu, faktor bias kognitif juga berperan besar. Penelitian oleh American Psychological Association menunjukkan bahwa manusia cenderung mengalami confirmation bias, yaitu lebih mudah menerima dan menyebarkan informasi yang sesuai dengan keyakinan mereka. Hal ini membuat seseorang bisa menyebarkan informasi yang salah tanpa niat menipu, karena ia merasa informasi tersebut benar.
Faktor emosi juga tidak kalah penting. Studi dari Massachusetts Institute of Technology oleh Soroush Vosoughi, Deb Roy, dan Sinan Aral (2018) menemukan bahwa berita bohong cenderung menyebar lebih cepat di media sosial dibandingkan berita benar, terutama karena memicu emosi yang kuat seperti takut, marah, atau terkejut. Emosi ini mendorong orang untuk segera membagikan informasi tanpa verifikasi.
Di sisi lain, ada pula penyebaran yang bersifat disengaja (disinformasi). Menurut laporan World Health Organization (2020), disinformasi sering kali dibuat untuk tujuan tertentu seperti keuntungan ekonomi, propaganda politik, atau manipulasi opini publik. Dalam konteks ini, perilaku tersebut lebih berkaitan dengan motif dan strategi, bukan gangguan mental.
Meski demikian, dalam beberapa kasus khusus, penyebaran informasi bohong bisa berkaitan dengan kondisi psikologis tertentu. Misalnya pada individu dengan gangguan yang melibatkan distorsi realitas seperti gangguan delusi, seseorang bisa benar-benar mempercayai hal yang tidak sesuai fakta. Ada juga kaitan dengan gangguan kepribadian tertentu yang ditandai dengan kecenderungan manipulatif atau kebutuhan berlebih akan perhatian. Namun, literatur dalam psikiatri menegaskan bahwa kasus seperti ini relatif jarang dan tidak mewakili mayoritas penyebar hoaks.
Kesimpulannya, penyebaran informasi bohong lebih sering disebabkan oleh faktor non-klinis seperti kurangnya literasi, bias kognitif, emosi, serta pengaruh sosial dan media. Gangguan mental hanya berperan dalam sebagian kecil kasus. Oleh karena itu, solusi utama yang direkomendasikan oleh berbagai lembaga seperti UNESCO dan WHO adalah peningkatan literasi digital, kemampuan berpikir kritis, dan kesadaran masyarakat dalam memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya.
─────────────୨ৎ─────────────
Referensi: ₊˚⊹ ᰔ
1. UNESCO. (2018). Journalism, Fake News & Disinformation: Handbook for Journalism Education and Training.
2. Vosoughi, S., Roy, D., & Aral, S. (2018). The spread of true and false news online. Science.
3. American Psychological Association (APA). (2020). Cognitive Bias and Decision Making.
4. World Health Organization (WHO). (2020). Managing the COVID-19 Infodemic.
Comments
Post a Comment